Sunan Ampel / Raden Rachmat
PRABU Sri Kertawijaya tak
kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya
yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada,
kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di
mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi
''kesibukan'' harian kaum bangsawan --pun rakyat kebanyakan.
Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ''Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,'' kata permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ''Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan,'' Darawati menambahkan. Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa --kini wilayah Kamboja.
Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari.
Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah, yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada 1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446 --tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah).
Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban.
Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan dakwah.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.
Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang --dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.
Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ''salat'' diganti dengan ''sembahyang'' (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ''langgar'', mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri --orang yang tahu buku suci agama Hindu.
Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan ''Sunan Ampel'' mulai populer.
Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ''Moh Limo''. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).
Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.
''Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?'' kata Sunan Ampel. ''Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.'' Pandangan Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.
Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih: apakah adat bisa dijadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.
Babad Gresik menyebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ''Ngulama Ampel Seda Masjid''. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.
Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.
Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai 10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.
Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ''Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,'' kata permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ''Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan,'' Darawati menambahkan. Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa --kini wilayah Kamboja.
Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari.
Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah, yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada 1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446 --tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah).
Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban.
Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan dakwah.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.
Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang --dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.
Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ''salat'' diganti dengan ''sembahyang'' (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ''langgar'', mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri --orang yang tahu buku suci agama Hindu.
Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan ''Sunan Ampel'' mulai populer.
Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ''Moh Limo''. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).
Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.
''Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?'' kata Sunan Ampel. ''Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.'' Pandangan Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.
Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih: apakah adat bisa dijadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.
Babad Gresik menyebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ''Ngulama Ampel Seda Masjid''. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.
Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.
Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai 10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.
Sunan Bonang / Syekh Maulana Makhdum Ibrahim
Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan
Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel
dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu
adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah
putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario Tejo.
Sebagai
seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa
,tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.
Sejak
kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan
disiplin . Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu
lebih berat dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon Wali yang
besar , maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin .
Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku
sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang
,yaitu Negeri Pasai . Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam
atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang
banyak menetap di Negeri Pasai .Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari
Bagdad, Mesir , Arab dan Persi atau Iran. Sesudah belajar di Negeri Pasai,
Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang keJawa. Raden Paku kembali ke
Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri .
Sedang
Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah diTuban. Dalam
berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk
menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.
Bonang
adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya . Bila benjolan itu
dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk
setempat . Lebih –lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat
musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang
tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para
pendengarnya . Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak
penduduk yang datang ingin mendengarkannya . Dan tidak sedikit dari mereka yang
ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang – tembang ciptaan
Raden Makdum Ibrahim.
Begitulah
siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran.Setelah rakyat
berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.
Tembang-tembang
yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama
Islam.Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan
senang hati, bukan dengan paksaan.
Diantara
tembang yang terkenal ialah :
“Tamba
ati iku sak warnane,
Maca
Qur’an angen-angen sak maknane,
Kaping
pindho shalat sunah lakonona,
Kaping
telu wong kang saleh kancanana,
Kaping
papat kudu wetheng ingkang luwe,
Kaping
lima dzikir wengi ingkang suwe,
Sopo
wongé bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyemba dani.
Artinya
:
Obat
sakit jiwa ( hati ) itu ada lima
jenisnya.
Pertama
membaca Al-Qur’an dengan artinya,
Kedua
mengerjakan shalat malam ( sunnah Tahajjud ),
Ketiga
sering bersahabat dengan orang saleh ( berilmu ),
Keempat
harus sering berprihatin ( berpuasa ),
Kelima
sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,
Siapa
saja mampu mengerjakannya, Insya Allah Tuhan Allah mengabulkan.
Hingga
sekarang lagi ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik
di pedesaan maupun dipesantren. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat
banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara maupun Madura. Karena
beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya
gelar Sunan Bonang. Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk
.Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang
sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang
disimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda . (Nederland )
Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.
Ketika Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus sebagai panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula pada Sunan Kudus tentang strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil dalam membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ''pengadilan'' yang dipimpinnya.
Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ''pengadilan'' itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah.
Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih.
Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu, dan setan.
Untuk menghindari ketiga ''musuh'' itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap.
Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.
Dikisahkan
beliau pernah menaklukkan seorang pemimpin perampok dan anak buahnya hanya
mempergunakan tambang dan gending. Dharma dan irama Mocopa,t Begitu gending
ditabuh Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu bergerak, seluruh persendian
mereka seperti dilolosi dari tempatnya. Sehingga gagallah mereka melaksanakan
niat jahatnya.
“Ampun
………. hentikanlah bunyi gamelan itu, kami tidak kuat !” Demikian rintih
Kebondanu dan anak buahnya.
“Gending
yang kami bunyikan sebenarnya tidak berpengaruh buruk terhadap kalian jika saja
hati kalian tidak buruk dan jahat.”
“Ya,
kami menyerah, kami tobat !Kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi, tapi
………. “ Kebondanu ragu meneruskan ucapannya.
“Kenapa
Kebondanu, teruskan ucapanmu !” ujar Sunan Bonang.
“Mungkinkah
Tuhan mengampuni dosa-dosa kami yang sudah tak terhitung lagi banyaknya,” kata
Kebondanu dengan ragu. “Kami sudah sering merampok, membunuh dan melakukan
tindak kejahatan lainnya.”
“Pintu
tobat selalu terbuka bagi siapa saja,” kata Sunan Bonang. “Allah adalah Tuhan
Yang Maha Pengampun dan Penerima tobat.”
“Walau
dosa kami setinggi gunung ?” Tanya Kebondanu.
“Ya,
walau dosamu setinggi gunung dan sebanyak pasir dilaut.”
Akhirnya
Kebondanu benar-benar bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang yang setia.
Demikian pula anak buahnya. Pada suatu ketika juga ada seorang Brahmana sakti
dari India
yang berlayar ke Tuban. Tujuannya hendak mengadu kesaktian dan berdebat tentang
masalah keagamaan dengan Sunan Bonang. Namun ketika ia berlayar menuju Tuban,
perahunya terbalik dihantam badai. Walaupun ia dan para pengikutnya berhasil
menyelamatkan diri kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat
dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut. Di tepi pantai mereka
melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat.
Mereka menghentikan lelaki itu dan menyapanya. Lelaki berjubah putih itu
menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.
“Saya
datang dari India
hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang.”kata sang Brahmana.
“Untuk
apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu .
“Akan
saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan ,kata sang Brahmana .”Tapi sayang
kitab –kitab yang saya bawa telah tenggelam kedasar laut .”
Tanpa
banyak bicara lelaki itu mencabut tongkatnya yang menancap dipasir ,mendadak
tersemburlah air dari lubang tongkat itu, membawa keluar semua kitab yang
dibawa sang Brahmana.
“Itukah
kitab-kitab Tuan yang tenggelam kedasar laut?”Tanya lelaki itu.
Sang
Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya
sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya
lelaki berjubah putih itu.
“Apakah
nama daerah tempat saya terdampar ini?”tanya sang Brahmana
“Tuan
berada dipantai Tuban !”jawab lelaki itu .Serta merta Brahmana dan para
pengikutnya menjatuhkan diri berlutut dihadapan lelaki itu .Mereka sudah dapat
mendiga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.
Siapalagi
orang sakti berilmu tinggi yang berada dikota Tuban selain Sunan Bonang .Sang
Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu
kesaktian dan mendebat masalah keagamaan, malah kemudian ia berguru kepada
Sunan Bonang dan menjadi pengikut Sunan Bonang yang setia.
Sunan
Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan
antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang
dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara
Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya,
sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ''mencuri'' jenazah sang Sunan.
Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.
Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.
Adalagi
legenda aneh tentang Sunan Bonang .
Sewaktu
beliau wafat, jenasahnya hendak dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan disamping
Sunan Ampel yaitu ayahandanya .Tetapi kapal yang digunakan mengangkut
jenazahnya tidak bisa bergerak sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang
dimakamkan di Tuban yaitu disebelah barat Masjid Jami ’Tuban.
Sunan
Drajat / Raden Qosim
Dia adalah putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan jejaknya.
Ada diceritakan, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.
Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang --ada juga yang menyebut ikan cakalang.
Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.
Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.
Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.
Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.
Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.
Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.
Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat --termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ''Bapang den simpangi, ana catur mungkur,'' demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.
Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.
Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.
Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.
''Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,'' katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.
Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening --yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.
Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ''saling memuridkan''. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.
Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.
Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.
Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ''Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga....'' Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.
Beliau
wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa
Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum
yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan
beliau di bidang kesenian.
Sunan Giri / Joko Samudra
Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ''giri'' berarti gunung.
Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri --yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter.
Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ''Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,'' kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.
Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.
Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ''putihan'', aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.
Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ''Aliran Tuban'' --Sunan Kalijaga cs-- ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.
Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ''ketua'' para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.
Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.
Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.
Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat.
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.
Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya.
Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam.
Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.
Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti.
Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ''referensi'' tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.
Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.
Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu --yang sedang mengandung tujuh bulan-- agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.
Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.
Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ''Maulana `Ainul Yaqin''. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.
Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.
Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Sunan Gresik / Maulana Malik Ibrahim
Matahari baru saja
tenggelam di Desa Tanggulangin, Gresik, Jawa Timur. Rembulan dan bintang
giliran menyapa dengan sinarnya yang elok. Penduduk desa tampak ceria menyambut
cuaca malam itu. Sebagian mereka berbincang santai di beranda, duduk lesehan di
atas tikar. Mendadak terdengar suara gemuruh. Makin lama makin riuh.
Sejurus kemudian, dari balik pepohonan di
perbatasan desa terlihat gerombolan pasukan berkuda --berjumlah sekitar 20
orang. Warga Tanggulangin berebut menyelamatkan diri --bergegas masuk ke
rumahnya masing-masing. Kawanan tak diundang itu dipimpin oleh Tekuk Penjalin.
Ia berperawakan tinggi, kekar, dengan wajah bercambang bauk.
''Serahkan harta kalian,'' sergah Penjalin, jawara yang tak asing di kawasan itu. ''Kalau menolak, akan kubakar desa ini.'' Tak satu pun penduduk yang sanggup menghadapi. Mereka memilih menyelamatkan diri, daripada ''ditekuk-tekuk'' oleh Penjalin. Merasa tak digubris, kawanan itu siap menghanguskan Tanggulangin.
Obor-obor hendak dilemparkan ke atap rumah-rumah penduduk. Tetapi, mendadak niat itu terhenti. Sekelompok manusia lain, berpakaian putih-putih, tiba-tiba muncul entah dari mana. Rombongan ini dipimpin Syekh Maulana Malik Ibrahim, ulama terkenal yang mulai meluaskan pengaruhnya di wilayah Gresik dan sekitarnya.
Ghafur, seorang murid Syekh, maju ke depan. Dengan sopan ia mengingatkan kelakuan tak terpuji Penjalin. Penjalin tentu tak terima. Apalagi, orang yang mengingatkannya sama sekali tak dikenal di rimba persilatan Gresik. Dalam waktu singkat, terjadilah pertarungan seru. Penduduk Tanggulangin, yang melihat pertempuran itu, rame-rame keluar, lalu membantu Ghafur.
Akhirnya, Penjalin dan pasukannya kocar-kacir. Tapi, Penjalin tak mau menuruti perintah Ghafur agar membubarkan anak buahnya. Ghafur tak punya pilihan lain, ia harus membunuh Penjalin. Baru saja tiba pada keputusan itu, tiba-tiba wajahnya diludahi Penjalin. Ghafur marah sekali. Aneh, di puncak kemarahan itu, ia malah melangkah surut.
Penjalin terperangah. ''Mengapa tak jadi membunuh aku?'' ia bertanya. Ghafur menjawab, ''Karena kamu telah membuatku marah, dan aku tak boleh menghukum orang dalam keadaan marah.'' Mendengar ''dakwah'' ini, disusul oleh perbincangan singkat, Penjalin dan gerombolannya menyatakan tertarik memeluk agama Islam.
Petikan di atas merupakan satu dari dua kisah populer tentang perjalanan dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang juga dikenal sebagai Sunan Gresik. Satu cerita lagi yang kerap ditulis pengarang buku-buku Maulana Malik Ibrahim adalah pertemuannya dengan sekawanan kafir di tengah padang pasir.
Ketika itu, mereka hendak menjadikan seorang gadis sebagai tumbal meminta hujan kepada dewa. Pedang sudah dihunus. Sunan Gresik mendinginkan mereka dengan pembicaraan yang lembut, kemudian memimpin salat Istisqa' --untuk memohon hujan. Tak lama kemudian langit mencurahkan butir-butir air, Kawanan kafir itu memeluk agama Islam.
Di kalangan Wali Songo, Maulana Malik Ibrahim disebut-sebut sebagai wali paling senior, alias wali pertama. Ada sejumlah versi tentang asal usul Syekh Magribi, sebutan lain Sunan Gresik itu. Ada yang mengatakan ia berasal dari Turki, Arab Saudi, dan Gujarat (India). Sumber lain menyebutkan ia lahir di Campa (Kamboja).
Setelah cukup dewasa, Maulana Malik Ibrahim diminta ayahnya, Barebat Zainul Alam, agar merantau, berdakwah ke negeri selatan. Maka, bersama 40 anggota rombongan yang menyertainya, Malik mengarungi samudra berhari-hari. Mereka kemudian berlabuh di Sedayu, Gresik, pada 1380 M. Mengenai tahun ''pendaratan'' ini pun terdapat beberapa versi.
Buku pegangan juru kunci makam Maulana Malik Ibrahim, misalnya, mencantumkan tahun 1392. Beberapa naskah lain bahkan menyebut tahun 1404. Rombongan Malik kemudian menetap di Desa Leran, sekitar sembilan kilometer di barat kota Gresik. Ketika itu, Gresik berada di bawah Kerajaan Majapahit.
Dari sinilah Malik mulai meluncurkan dakwahnya, dengan gaya menjauhi konfrontasi. Sebagian besar masyarakat setempat ketika itu menganut Hindu, ''agama resmi'' Kerajaan Majapahit. Sunan melalukan sesuatu yang sangat sederhana: membuka warung. Ia menjual rupa-rupa makanan dengan harga murah.
Dalam waktu singkat, warungnya ramai dikunjungi orang. Malik melangkah ke tahap berikutnya: membuka praktek sebagai tabib. Dengan doa-doa yang diambil dari Al-Quran, ia terbukti mampu menyembuhkan penyakit. Sunan Gresik pun seakan menjelma menjadi ''dewa penolong''. Apalagi, ia tak pernah mau dibayar.
Di tengah komunitas Hindu di kawasan itu, Sunan Gresik cepat dikenal, karena ia sanggup menerobos sekat-sekat kasta. Ia memperlakukan semua orang sama sederajat. Berangsur-angsur, jumlah pengikutnya terus bertambah. Setelah jumlah mereka makin banyak, Sunan Gresik mendirikan masjid.
Ia juga merasa perlu membangun bilik-bilik tempat menimba ilmu bersama. Model belajar seperti inilah yang kemudian dikenal dengan nama pesantren. Dalam mengajarkan ilmunya, Malik punya kebiasaan khas: meletakkan Al-Quran atau kitab hadis di atas bantal. Karena itu ia kemudian dijuluki ''Kakek Bantal''.
Kendati pengikutnya terus bertambah, Malik merasa belum puas sebelum berhasil mengislamkan Raja Majapahit. Ia paham betul, tradisi Jawa sarat dengan kultur ''patron-client''. Rakyat akan selalu merujuk dan berteladan pada perilaku raja. Karena itu, mengislamkan raja merupakan pekerjaan yang sangat strategis.
Tetapi Malik tahu diri. Kalau ia langsung berdakwah ke raja, pasti tak akan digubris, karena posisinya lebih rendah. Karena itu ia meminta bantuan sahabatnya, yang menjadi raja di Cermain. Konon, Kerajaan Cermain itu ada di Persia. Tetapi J. Wolbers, dalam bukunya Geschiedenis van Java, menyebut Cermain tak lain adalah Kerajaan Gedah, alias Kedah, di Malasyia.
Raja Cermain akhirnya datang bersama putrinya, Dewi Sari. Mereka disertai puluhan pengawal. Dewi yang berwajah elok itu akan dipersembahkan kepada Raja Majapahit. Dari sini, bercabang-cabanglah cerita mengenai ''Raja Majapahit'' itu.. Ada yang menyebut raja itu Prabu Brawijaya V. Tetapi menurut Wolbers, raja tersebut adalah Angkawijaya.
Repotnya, menurut Umar Hasyim dalam bukunya, Riwayat Maulana Malik Ibrahim, nama Angkawijaya tidak dikenal, baik dalam Babad Tanah Jawi maupun Pararaton. Nama Angkawijaya tercantum dalam Serat Kanda. Di situ disebutkan, dia adalah pengganti Mertawijaya, alias Damarwulan --suami Kencana Wungu.
Angkawijaya mempunyai selir bernama Ni Raseksi. Tetapi, kalau dicocokkan dengan Babad Tanah Jawi, raja Majapahit yang mempunyai selir Ni Raseksi adalah Prabu Brawijaya VII. Cuma, menurut catatan sejarah, Prabu Brawijaya VII memerintah pada 1498-1518. Periode ini jadi ''bentrokan'' dengan masa hidup Maulana Malik Ibrahim.
Melihat tahunnya, kemungkinan besar raja yang
dimaksud adalah Hyang Wisesa, alias Wikramawardhana, yang memerintah pada
1389-1427. Terlepas dari siapa sang raja sebenarnya, yang jelas penguasa
Majapahit itu akhirnya bersedia menemui rombongan Raja Cermain. Sayang, usaha
mereka gagal total.
Sang raja cuma mau menerima Dewi Sari, tetapi menolak masuk Islam. ''Bargaining'' seperti ini tentu diotolak rombongan Cermain. Sebelum pulang ke negerinya, rombongan Cermain singgah di Leran. Sambil menunggu perbaikan kapal, mereka menetap di rumah Sunan Gresik.
Malang tak bisa ditolak, tiba-tiba merajalelalah wabah penyakit. Banyak anggota rombongan Cermain yang tertular, bahkan meninggal. Termasuk Dewi Sari. Raja Cermain dan sebagian kecil pengawalnya akhirnya bisa pulang ke negeri mereka. Sunan Gresik sendiri tak patah hati dengan kegagalan ''misi'' itu. Ia terus melanjutkan dakwahnya hingga wafat, pada 1419.
Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayattullah
Sebelum era Sunan Gunung Jati berdakwah di Jawa Barat. Ada seorang ulama besar dari Bagdad telah datang di daerah
Cirebon bersama
duapuluh dua orang muridnya. Ulama besar itu bernama Syekh Kahfi. Ulama inilah
yang lebih dahulu menyiarkan agama Islam di sekitar daerah Cirebon.
Al-Kisah,
putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran bernama Pangeran Walangsungsang dan
adiknya Rara Santang pada suatu malam mendapat mimpi yangsama .Mimpi itu
terulang hingga tiga kali yaitu bertemu dengan Nabi Muhammad yang mengajarkan
agama Islam.
Wajah
Nabi Muhammad yang agung dan caranya menerangkan Islam demikian mempersona
membuat kedua anak muda itu merasa rindu.Tapi mimpi itu hanya terjadi tiga
kali.
Seperti
orang kehausan, kedua anak muda itu mereguk air lebih banyak lagi, air yang
akan menyejukkan jiwanya itu agama Islam. Kebetulan mereka telah mendengar
adanya Syekh Dzatul Kahfi atau lebih muda disebut Syekh Datuk Kahfi yang
membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan maksudnya kepada Prabu
Siliwangi untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, mereka ingin memperdalam
agama Islam seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Tapi keinginan mereka ditolak
oleh Prabu Siliwangi.
Pangeran
Walangsungsang dan adiknya nekad, keduanya melarikan diri dari istana dan pergi
berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati. Setelah berguru beberapa lama
di Gunung Jati, Pangeran Walangsungsang diperintahkan oleh Syekh Datuk Kahfi
untuk membuka hutan di bagian selatan Gunung Jati. Pangeran Walangsungsang
adalah seorang pemuda sakti, tugas itu diselesaikannya hanya dalam beberapa
hari. Daerah itu dijadikan pendukuhan yang makin hari banyak orang berdatangan
menetap dan menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah daerah itu ramai
Pangeran Walangsungsang diangkat sebagai kepala Dukuh dengan gelar Cakrabuana.
Daerahnya dinamakan Tegal Alang-alang.
Orang
yang menetap di Tegal Alang-alang terdiri dari berbagai rasa atau keturunan,
banyak pula pedagang asing yang menjadi penduduk tersebut, sehingga terjadilah
pembauran dari berbagai ras dan pencampuran itu dalam bahasa Sunda disebut
Caruban.Maka Legal Alang-alang disebut Caruban.
Sebagian
besar rakyat Caruban mata pencariannya adalah mencari udang kemudian dibuatnya
menjadi petis yang terkenal.
Dalam
bahasa Sunda Petis dari air udang itu, Cai Rebon. Daerah Carubanpun kemudian
lebih dikenal sebagai Cirebon
hingga sekarang ini. Setelah dianggap memenuhi syarat, Pangeran Cakrabuana dan
Rarasantang di perintah Datuk Kahfi untuk melaksanakan ibadah haji ke Tanah
Suci. Di Kota Suci Mekkah, kedua kakak beradik itu tinggal di rumah seorang
ulama besar bernama Syekh Bayanillah sambil menambah pengetahuan agama.
Sewaktu
mengerjakan tawaf mengelilingi Ka’bah kedua kakak beradik itu bertemu dengan
seorang Raja Mesir bernama Sultan Syarif Abdullah yang sama-sama menjalani
Ibadah haji. Raja Mesir itu tertarik pada wajah Rarasantang yang mirip mendiang
istrinya.
Sesudah
ibadah haji diselesaikan Raja Mesir itu melamar Rarasantang pada Syekh
Bayanillah.
Rarasantang
dan Pangeran Cakrabuana tidak keberatan. Maka dilangsungkanlah pernikahan
dengan cara Mazhab Syafi’i. Nama Rarasantang kemudian diganti dengan Syarifah
Mudaim. Dari perkawinan itu lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Pangeran
Cakrabuana sempat tinggal di Mesir selama tiga tahun. Kemudian pulang ke Jawa
dan mendirikan Negeri Caruban Larang. Negeri Caruban Larang adalah perluasan
dari daerah Caruban atau Cirebon, pola pemerintahannya menggunakan azas Islami.
Istana negeri itu dinamakan sesuai dengan putri Pangeran Cakrabuana yaitu
Pakungwati.
Dalam
waktu singkat Negeri Caruban Larang telah terkenal ke seluruh Tanah Jawa,
terdengar pula oleh Prabu Siliwangi selaku penguasa daerah Jawa Barat. Setelah
mengetahui negeri baru tersebut dipimpin putranya sendiri, maka sang Raja tidak
keberatan walau hatinya kurang berkenan. Sang Prabu akhirnya juga merestui
tampuk pemerintahan putranya, bahkan sang Prabu memberinya gelar Sri Manggana.
Sementara
itu dalam usia muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia
ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir, tapi anak muda
yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud
pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian
diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.
Sewaktu
berada di negeri Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulama besar
didaratan Timur Tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka
ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa, ia tidak merasa kesulitan
melakukan dakwah.
2.
PERJUANGAN SUNAN GUNUNG JATI.
Sering
kali terjadi kerancuan antara nama Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar
Sunan Gunung Jati. Orang menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah
satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja
Pajajaran adalah seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat yang kemudian
disebut Sunan Gunungjati.
Sedang
Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana membantu
Sunan Gunungjati berperang melawan penjajah Portugis.
Bukti
bahwa Fatahillah bukan Sunan Gunungjati adalah makam dekat Sultan Gunungjati
yang ada tulisan Tubagus Pasai Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut
lidah orang Portugis. Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang di
negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di
Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira
oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru
Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan
alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah Muda’im minta agar
diijinkan tinggal di Pasambangan atau Gunungjati.
Syarifah
Muda’im dan putranya yaitu Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk
Kahfi membuka Pesantren Gunungjati. Sehingga kemudian dari Syarif Hidayatullah
lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunungjati.
Tibalah
saat yang ditentukan, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyi
Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya yaitu pada tahun 1479,
karena usianya sudah lanjut Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan Negeri
Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan artinya orang yang
dijunjung tinggi. Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif
Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu
Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tapi tidak mau. Mesti Prabu
Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama
Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanan
ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan banyaknya
saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering
singgah ke tempat itu.
Kedatangan
Syarif Hidayatullah disambut baik oleh adipati Banten. Bahkan Syarif
Hidayatullah dijodohkan dengan putri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten.
Dari
perkawinan inilah kemudian Syarif Hidayatullah di karuniai dua orang putra
yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama islam
di Tanah Jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati tidak bekerja
sendirian, beliau sering ikut bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di
Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdrinya Masjid Demak.
Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lainnya ini akhirnya Syarif
Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memproklamirkan diri
sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan.
Dengan
berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon
tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat
Kadipaten Galuh. Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh Raja Pajajaran.
Raja Pajajaran tak peduli siapa yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon itu maka
dikirimkannya pasukan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya. Tugas
mereka adalah menangkap Syarif Hidayatullah yang dianggap lancang mengangkat
diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi usaha ini tidak berhasil, Ki
Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke Pajajaran, mereka masuk Islam
dan menjadi pengikut Syarif Hidayayullah.
Dengan
bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin bertambah besarlah
pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti : Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri
menjadi wilayah Kasultanan Cirebon.
Lebih-lebih
dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besarlah pengaruh
Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang besar dari negeri asing datang menjalin
persahabatan.
Diantaranya
dari negeri Tiongkok. Salah seorang keluarga istana Cirebon
kawin dengan Pembesar dari negeri Cina yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan negeri Cina
makin erat.
Bahkan
Sunan Gunungjati pernah diundang ke negeri Cina dan kawin dengan putri Kaisar
Cina yang bernama Putri Ong Tien. Kaisar Cina yang pada saat itu dari dinasti
Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang Kaisar ingin menjalin erat
hubungan baik antara Cirebon dan negeri Cina, hal ini ternyata menguntungkan
bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.
Sesudah
kawin dengan Sunan Gunungjati, Putri Ong Tien di ganti namanya menjadi Nyi Ratu
Rara Semanding. Kaisar ayah Putri Ong Tien ini membekali putranya dengan harta
benda yang tidak sedikit, sebagian besar barang-barang peninggalan putri Ong
Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang masih ada dan tersimpan
di tempat yang aman.
Istana
dan Masjid Cirebon
kemudian dihiasi dan diperluas lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari
negeri Cina. Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa
Nyi Ratu Pakungwati atau istri Sunan Gunungjati. Dari pembangunan masjid itu
melibatkan banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang
dikirim oleh Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat
penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan ummat.
Selesai
membangun masjid, diserukan dengan membangun jalan-jalan raya yang
menghubungkan Cirebon
dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam di
seluruh Tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas
perkembangan wilayah Cirebon
yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin
terhimpit.
Pada
tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin
meluaskan kekuasaan ke Pulau Jawa. Pelabuhan Sunda Kelapa yang jadi incaran
mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang
mengancam kepulauan Nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim Adipati
Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka. Tapi usaha
itu tak membuahkan hasil, persenjataan Portugis terlalu lengkap, dan mereka
terlanjur mendirikan benteng yang kuat di Malaka.
Ketika
Adipati Unus kembali ke Jawa, seorang pejuang dari Pasai (Malaka) bernama
Fatahillah ikut berlayar ke Pulau Jawa. Pasai sudah tidak aman lagi bagi
mubaligh seperti Fatahillah karena itu beliau ingin menyebarkan agama Islam di
Tanah Jawa.
Raden
Patah wafat pada tahun 1518, berkedudukannya digantikan oleh Adipati Unus atau
Pangeran Sabrang Lor, baru saja beliau dinobatkan muncullah pemberontakan
pemberontakan dari daerah pedalaman, didalam usaha memadamkan pemberontakan itu
Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia, gugur sebagai pejuang sahid.
Pada
tahun 1521 Sultan Demak di pegang oleh Raden Trenggana putra Raden Patah yang
ketiga. Di dalam pemerintahan Sultan Trenggana inilah Fatahillah diangkat
sebagai Panglima Perang yang akan ditugaskan mengusir Portugis di Sunda Kelapa.
Fatahillah
yang pernah berpengalaman melawan Portugis di Malaka sekarang harus mengangkat
senjata lagi. Dari Demak mula-mula pasukan yang dipimpinnya menuju Cirebon. Pasukan gabungan
Demak Cirebon
itu kemudian menuju Sunda Kelapa yang sudah dijarah Portugis atas bantuan
Pajajaran.
Mengapa
Pajajaran membantu Portugis ? Karena Pajajaran merasa iri dan dendam pada
perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas, ketika Portugis menjanjikan
bersedia membantu merebut wilayah Pajajaran yang dikuasai Cirebon maka Raja Pajajaran menyetujuinya.
Mengapa
Pasukan gabungan Demak-Cirebon itu tidak dipimpin oleh Sunan Gunungjati ?
Karena Sunan Gunungjati tahu dia harus berperang melawan kakeknya sendiri, maka
diperintahkannya Fatahillah memimpin serbuan itu. Pengalaman adalah guru yang
terbaik, dari pengalamannya bertempur di Malaka, tahulah Fatahillah titik-titik
lemah tentara dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi komando
dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang.
Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedangkan
Pajajaran cerai berai tak menentu arahnya. Selanjutnya Fatahillah ditugaskan
mengamankan Banten dari gangguan para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan
Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena Fatahillah dibantu putra
Sunan Gunungjati yang bernama Pangeran Sebakingking. Di kemudian hari Pangeran
Sebakingking ini menjadi penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin.
Fatahillah
kemudian diangkat segenap Adipati di Sunda Kelapa. Dan merubah nama Sunda
Kelapa menjadi Jayakarta, karena Sunan Gunungjati selaku Sultan Cirebon telah memanggilnya untuk meluaskan daerah Cirebon agar Islam lebih
merata di Jawa Barat.
Berturut-turut
Fatahillah dapat menaklukkan daerah TALAGA sebuah negara kecil yang dikuasai
raja Budha bernama Prabu Pacukuman. Kemudian kerajaan Galuh yang hendak
meneruskan kebesaran Pajajaran lama.Raja Galuh ini bernama Prabu Cakraningrat
dengan senopatinya yang terkenal yaitu Aria Kiban. Tapi Galuh tak dapat
membendung kekuatan Cirebon, akhirnya raja dan senopatinya tewas dalam
peperangan itu.
Kemenangan
demi kemenangan berhasil diraih Fatahillah. Akhirnya Sunan Gunungjati memanggil
ulama dari Pasai itu ke Cirebon.
Sunan Gunungjati menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu. Sementara
kedudukan Fatahillah selaku Adipati Jayakarta kemudian diserahkan kepada Ki
Bagus Angke. Ketika usia Sunan Gunungjati sudah semakin tua, beliau mengangkat
putranya yaitu Pangeran Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon ke dua dengan gelar Pangeran Pasara
Pasarean. Fatahillah yang di Cirebon
sering disebut Tubagus atau Kyai Bagus Pasai diangkat menjadi penasehat sang
Sultan.
Sunan
Gunung Jati lebih memusatkan diri pada penyiaran dakwah Islam di Gunungjati
atau Pesantren Pasambangan. Namun lima
tahun sejak pengangkatannya mendadak Pangeran Muhammad Arifin meninggal dunia
mendahului ayahandanya. Kedudukan Sultan kemudian diberikan kepada Pangeran
Sebakingking yang bergelar sultan Maulana Hasanuddin, dengan kedudukannya di
Banten. Sedang Cirebon walaupun masih tetap digunakan sebagai kesultanan tapi
Sultannya hanya bergelar Adipati.Yaitu Adipati
Carbon I.
Adpati Carbon I ini adalah menantu Fatahillah yang diangkat sebagai Sultan Cirebon oleh Sunan Gunung
Jati.
Adapun
nama aslinya Adipati Carbon adalah Aria Kamuning.
Sunan
Gunungjati wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan
pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian
wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam
kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga. Demikianlah
riwayat perjuangan Sunan Gunungjati.
Sunan Kali Jaga / Raden Said
Sudah banyak orang tahu bahwa Sunan Kalijaga
itu aslinya bernama Raden Said.
Putra Adipati Tuban yaitu
Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur,
walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu tapi Raden Sahur
sendiri sudah masuk agama Islam.
Sejak kecil Raden Said
sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban.Tetapi
karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi dengan
kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak. Gelora jiwa muda Raden
said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten
Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat jelata.
Rakyat yang pada waktu
itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin
sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan
ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka
untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik
pajak. Raden Said yang mengetahui hal itu pernah mengajukan pertanyaan yang
mengganjal di hatinya. Suatu hari dia menghadap ayahandanya.
“Rama Adipati, rakyat
tahun ini sudah semakin sengsara karena panen banyak yang gagal,” kata Raden
Said. “Mengapa pundak mereka masih harus dibebani dengan pajak yang mencekik
leher mereka. Apakah hati nurani Rama tidak merasa kasihan atas penderitaan
mereka ?”
Adipati Wilatikta menatap
tajam kea rah putranya. Sesaat kemudian dia menghela nafas panjang dan kemudian
mengeluarkan suara, “Said anakku ….. saat ini pemerintah pusat Majapahit sedang
membutuhkan dana yang sangat besar untuk melangsungkan roda pemerintahan. Aku
ini hanyalah seorang bawahan sang Prabu, apa dayaku menolak tugas yang
dibebankan kepadaku. Bukan hanya Kadipaten Tuban yang diwajibkan membayar upeti
lebih banyak dari tahun-tahun yang lalu. Kadipaten lainnya juga mendapat tugas
serupa.”
“Tapi …… mengapa harus
rakyat yang jadi korban.” Sahut Raden Said. Tapi Raden Said tak meneruskan
ucapannya. Dilihatnya saat itu wajah ayahnya berubah menjadi merah padam
pertanda hatinya sedang tersinggung atau naik pitam. Baru kali ini Raden Said
membuat ayahnya marah. Hal yang selama hiduptak pernah dilakukannya.
Raden Said tahu diri.
Sambil bersungut-sungut dia merunduk dan mengundurkan diri dari hadapan ayahnya
yang sedang marah.
Ya, Raden Said tak perlu
melanjutkan pertanyaan. Sebab dia sudah dapat menjawabnya sendiri. Majapahit
sedang membutuhkan dana besar karena negeri itu sering menghadapi kekacauan,
baik memadamkan pemberontakan maupun terjadinya perang saudara.
Walau Raden Said putra
seorang bangsawan dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat
oleh adapt istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau
dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga yang paling
atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui
selukbeluk kehidupan rakyat Tuban. Niat untuk mengurangi penderitaan rakyat
sudah disampaikan kepada ayahnya. Tapi agaknya ayahnya tak bisa berbuat banyak.
Dia cukup memahaminya pula posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit.
Tapi niat itu tak pernah padam.
Jika malam-malam
sebelumnya dia sering berada di dalam kamarnya sembari mengumandangkan ayat-ayat
suci Al-Qur’an, maka sekarang dia keluar rumah.
Di saat penjaga gudang
Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik
dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makan itu dibagi-bagikan
kepada rakyat yang sangat membutuhkannya.
Tentu saja rakyat yang
tak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur girang menerima rezeki yang tak
diduga-duga. Walau mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki
itu, sebabnya Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.
Bukan hanya rakyat yang
terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang
Kadipaten juga merasa kaget, hatinya kebat-kebit, soalnya makin hari
barangbarang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu makin
berkurang.
Ia ingin mengetahui
siapakah pencuri barang hasil bumi di dalam gudang itu. Suatu malam ia sengaja
sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang
Kadipaten.
Dugaannya benar, ada
seseorang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga gudang itu
memperhatikan, pencuri itu.Dia hampir tak percaya, pencuri itu adalah Raden
Said, putra junjungannya sendiri.
Untuk melaporkannya
sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani. Kuatir dianggap membuat fitnah.
Maka penjaga gudang itu hanya minta dua orang saksi dari sang Adipati untuk
memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.
Raden Said tak pernah
menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan.
Ketika ia hendak keluar
dari gudang sambil membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurid Kadipaten
menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa kehadapan
ayahnya.
“Sungguh memalukan sekali
perbuatanmu itu !” hardik Adipati Wilatikta. “Kurang apakah aku ini, benarkah
aku tak menjamin kehidupanmu di istana Kadipaten ini ?
Apakah aku pernah
melarangnya untuk makan sekenyang-kenyangnya di Istana ini ?
Atau aku tidak pernah
memberimu pakaian ? Mengapa kau lakukan perbuatan tecela itu ?”
Raden Said tidak
mengeluarkan suara. Biarlah, bisik hatinya. Biarlah orang tak pernah tahu untuk
apa barang-barang yang tersimpan di gudang Kadipaten itu kuambil. Biarlah
ayahku tak pernah tahu kepada siapa barang-barang itu kuberikan. Adipati
Wilatikta semakin marah melihat sikap anaknya itu. Raden Said tidak menjawabnya
untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke
Majapahit itu.
Tapi untuk itu Raden Said
harus mendapat hukuman, karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali
dilakukannya maka dia hanya mendapat hukuman cambuk dua ratus kali pada
tangannya. Kemudian disekap selama beberapa hari, tak boleh keluar rumah.
Jerakah Raden Said atas
hukuman yang sudah diterimanya ? Sesudah keluar dari hukuman dia benar-benar
keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan
adiknya. Apa yang dilakukan Raden Said selanjutnya ?
Dia mengenakan topeng
khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di
kabupaten Tuban. Terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat Kadipaten yang
curang. Harta hasil rampokan itupun diberikannya kepada fakir miskin dan
orang-orang yang menderita lainnya. Tapi ketika perbuatannya ini mencapai titik
jenuh ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.
Ada seorang pemimpin
perampok sejati yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kaya,
kemudian pemimpin rampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden
Said, bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said juga.
Pada suatu malam, Raden
Said yang baru saja menyelesaikan shalat Isyá mendengar jerit tangis para
penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok.
Dia segera mendatangi
tempat kejadian itu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said, kawanan perampok
itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin mereka yang sedang
asyik memperkosa seorang gadis cantik. Raden Said mendobrak pintu rumah si
gadis yang sedang diperkosa. Di dalam sebuah kamar dia melihat seseorang
berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang berusaha
mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia sudah selesai memperkosa gadis itu.
Raden Said berusaha
menangkap perampok itu. Namun pemimpin rampok itu berhasil melarikan diri.
Mendadak terdengar suara kentongan di pukul bertalu-talu, penduduk dari kampung
lain berdatangan ke tempat itu.Pada saat itulah si gadis yang baru diperkosa
perampok tadi menghamburkan diri dan menangkap erat-erat tangan Raden Said.
Raden Said pun jadi panik dan kebingungan.Para pemuda dari kampung lain
menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke
rumah kepala desa.
Kepala desa yang merasa
penasaran mencoba membuka topeng di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa
orang dibalik topeng itu sang kepala desa jadi terbungkam. Sama sekali tak
disangkanya bahwa perampok itu adalah putra junjungannya sendiri yaitu Raden
Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu. Raden Said dianggap perampok dan
pemerkosa. Si gadis yang diperkosa adalah bukti kuat dan saksi hidup atas
kejadian itu.
Sang kepala desa masih
berusaha menutup aib junjungannya. Diam-diam ia membawa Raden Said ke istana
Kadipaten Tuban tanpa diketahui orang banyak. Tentu saja sang Adipati menjadi
murka. Sang Adipati yang selama ini selalu merasa sayang dan selalu membela
anaknya kali ini juga naik pitam. Raden Said diusir dari wilayah Kadipaten
Tuban.
“Pergi dari Kadipaten
Tuban ini !” kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri ! pergi ! jangan
kembali sebelum kau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban
ini dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sering kau baca di malam hari !”
Sang Adipati Wilatikta
juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat
menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban ternyata telah menutup
kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang adipati. Hanya ada
satu orang yang tak dapat mempercayai perbuatan Raden Said, yaitu Dewi
Rasawulan, adik Raden said. Raden Said itu berjiwa bersih luhur dan sangat
tidak mungkin melakukan perbuatan keji. Hati siapa yang takkan hancur mengalami
peristiwa seperti ini. Raden Said bermaksud menolong fakir miskin dan penduduk
yang menderita tapi akibatnya justru dia sendiri yang harus menelan derita.
Diusir dari Kadipaten Tuban.
Orang tua mana yang tak
terpukul batinnya mengetahui anak dambaan hati tiba-tiba berbuat jahat dan
menghancurkan nama dan masa depannya sendiri. Tapi itulah peristiwa yang memang
harus dialami oleh Raden Said. Seandainya tidak ada fitnah seperti itu,
barangkali Raden Said tidak bakal menjadi seorang ulama besar, seorang Wali
yang dikagumi oleh seluruh penduduk Tanah Jawa. Raden Said betul-betul
meninggalkan Kadipaten Tuban.
Dewi Rasawulan yang
sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasihan, tanpa sepengetahuan ayah dan
ibunya dia meninggalkan istana Kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk
diajak pulang. Tentu saja sang ayah dan ibu kelabakan mengetahui hal ini.
Segera saja diperintahkan puluhan prajurit Tuban untuk mencari Dewi Rasawulan
tak pernah ditemukan oleh mereka.
Di dalam Babad Tanah Jawa
dikisahkan bahwa Dewi Rasawulan pada akhirnya telah ditemukan oleh Empu Supa,
seorang Tumenggung Majapahit yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Dewi Rasawulan
kemudian dijodohkan dengan Empu Supa. Dan kembali ke Tuban bersama-sama dengan
diantar Sunan Kalijaga yang tak lain adalah Raden Said sendiri.
2. MASA PENGGEMBLENGAN
DIRI.
Kemanakah Raden Said
sesudah diusir dari Kadipaten Tuban ? Ternyata ia mengembara tanpa tujuan
pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi. Selama bertahun-tahun dia
menjadi perampok budiman. Mengapa disebut perampok budiman ?
Karena hasil rampokannya
itu tak pernah dimakannya. Seperti dulu, selalu diberikan kepada fakir miskin.
Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak
menyantuni rakyat jelata, dan tidak mau membayar zakat. Di hutan Jatiwangi dia
membuang nama aslinya. Orang menyebutnya sebagai Brandal Lokajaya.
Pada suatu hari, ada
seorang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi. Dari jauh Brandal Lokajaya
sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya
berkilauan.
“Pasti gagang tongkat itu
terbuat dari emas,” bisik Brandal Lokajaya dalam hati.
Terus diawasinya orang
tua berjubah putih itu. Setelah dekat dia hadang langkahnya sembari berkata,
“Orang tua, apa kau pakai tongkat ? Tampaknya kau tidak buta, sepasang matamu
masih awas dan kau juga masih kelihatan tegar, kuat berjalan tanpa tongkat !”
Lelaki berjubah putih itu
tersenyum, wajahnya ramah, dengan suara lembut dia berkata, “Anak muda ……….
Perjalanan hidup manusia itu tidak menentu, kadang berada di tempat terang,
kadang berada di tempat gelap, dengan tongkat ini aku tidak akan tersesat bila
berjalan dalam kegelapan.”
“Tapi ………. saat ini hari
masih siang, tanpa tongkat saya kira kau tidak akan tersesat berjalan di hutan
ini.” Sahut Raden Said. Kembali lelaki berjubah putih itu tersenyum arif, “anak
muda ………. Perjalanan hidup manusia itu tidak menentu, kadang berada di tempat
terang, kadang berada di tempat gelap, dengan tongkat ini aku tidak akan tersesat
bila berjalan dalam kegelapan.”
“Tetapi ………. saat ini
hari masih siang, tanpa tongkat saya kira kau tidak akan tersesat berjalan di
hutan ini.” Sahut Radeb Said. Kembali lelaki berjubah putih itu tersenyum arif,
“Anak muda tongkat adalah pegangan, orang hidup haruslah mempunyai pegangan
supaya tidak tersesat dalam menempuh perjalanan hidupnya.”
Agaknya jawab-jawab yang
mengandung filosofi itu tak menggugah hati Raden Said. Dia mendengar dan
mengakui kebenarannya tapi perhatiannya terlanjur tertumpah kepada gagang
tongkat lelaki berjubah putih itu. Tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat
itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut dengan paksa
maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.
Dengan susah payah orang
itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari
mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang
dipegangnya. Ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas, hanya gagangnya saja
terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti
emas. Raden Said heran melihat orang itu menangis. Segera diulurkannya kembali
tongkat itu, “Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan.”
“Bukan tongkat ini yang
kutangisi,” Ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput di
telapak tangannya. “Lihatlah ! Aku telah berbuat dosa, berbuat kesiasiaan.
Rumput ini tercabut ketika aku aku jatuh tersungkur tadi.”
“Hanya beberapa lembar
rumput. Kau merasa berdosa ?” Tanya Raden Said heran.
“Ya, memang berdosa !
Karena kau mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata guna makanan ternak itu
tidak mengapa. Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa !” Jawab
lelaki itu.
Hati Raden Said agak
tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
“Anak muda sesungguhnya
apa yang kau cari di hutan ini ?”
“Saya mengintai harta ?”
“Untuk apa ?”
“Saya berikan kepada
fakir miskin dan penduduk yang menderita.”
“Hemm, sungguh mulia
hatimu, sayang …… caramu mendapatkannya yang keliru.”
“Orang tua ………. apa maksudmu
?”
“Boleh aku bertanya anak
muda ?”
“Silahkan ………. “
“Jika kau mencuci
pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar ?”
“Sungguh perbuatan
bodoh,” sahut Raden Said. “Hanya manambah kotor dan bau pakaian itu saja.”
Lelaki itu tersenyum,
“Demikian pula amal yang kau lakukan. Kau bersedekah dengan barang yang di
dapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian
dengan air kencing.”
Raden Said tercekat.
Lelaki itu melanjutkan
ucapannya, “Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang
yang baik atau halal.”Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu.
Rasa malu mulai menghujam tubuh hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini.
Di pandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu. Agung dan berwibawa
namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan tertarik pada
lelaki berjubah putih itu.
“Banyak hal yang terkait
dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Kau
tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi para penduduk miskin bantuan makan
dan uang. Kau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau merubah
caranya memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat
agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya !”
Raden Said semakin
terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama ini.
“Kalau kau tak mau kerja
keras, dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. Itu
barang halal. Ambillah sesukamu !”
Berkata demikian lelaki
itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika pohon itu berubah menjadi emas
seluruhnya. Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda
sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. Berbagai ilmu yang
aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir,
kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia pasti dapat mengatasinya.
Tapi, setelah ia
mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap berubah menjadi emas. Berarti orang
itu tidak mempergunakan sihir
Raden Said terpukau di
tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah
menjadi emas seluruhnya.Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi
emas berkilauan itu. Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala
Raden Said. Pemuda itu terjerembab ke tanah. Roboh dan pingsan.
Ketika ia sadar, buah
aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti arenaren lainnya.
Raden Said bangkit berdiri, mencari orang berjubah putih tadi. Tapi yang
dicarinya sudah tak ada di tempat.
“Pasti dia seorang sakti
yang berilmu tinggi. Menilik caranya berpakaian tentulah dari golongan para
ulama atau mungkin salah seorang dari Waliullah, aku harus menyusulnya, aku
akan berguru kepadanya,” demikian pikir Raden Said.
Raden Said mengejar orang
itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat, akhirnya dia dapat
melihat bayangan orang itu dari kejauhan. Seperti santai saja orang itu
melangkahkan kakinya, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh
bangun, terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah, setelah tenaganya terkuras
habis dia baru sampai di belakang lelaki berjubah putih itu.
Lelaki berjubah putih itu
berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang
sungai yang cukup lebar.Tak ada jembatan, dan sungai itu tampaknya dalam,
dengan apa dia harus menyeberang.
“Tunggu ………. “ ucap Raden
Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.
“Sudilah Tuan menerima
saya sebagai murid …… “ Pintanya.
“Menjadi muridku ?” Tanya
orang itu sembari menoleh. “Mau belajar apa ?”
“Apa saja, asal Tuan
menerima saya sebagai murid ……“
“Berat, berat sekali anak
muda, bersediakah kau menerima syarat-syaratnya ?”
“Saya bersedia …… “
Lelaki itu kemudian
menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya.
Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali menemuinya.
Raden Said bersedia
menerima syarat ujian itu. Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang
mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan
berjalan didaratan saja. Kakinya tidak basah terkena air.
Setelah lelaki itu hilang
dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila, dia berdo’a kepada Tuhan
supaya ditidurkan seperti para pemuda di goa Kahfi ratusan tahun silam. Do’anya
dikabulkan. Raden Said tertidur dalam samadinya selama tiga tahun. Akar dan
rerumputan telah membalut dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.
Setelah tiga tahun lelaki
berjubah putih itu datang menemui Raden Said. Tapi Raden Said tak bisa
dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan adzan, pemuda itu membuka sepasang
matanya. Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih.
Kemudian dibawa ke Tuban.Mengapa ke Tuban ? Karena lelaki berjubah putih itu adalah
Sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan
tingkatnya, yaitu tingkat para Waliullah. Di kemudian hari Raden Said terkenal
sebagai Sunan Kalijaga. Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai.
Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah
penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu. Dijaga maksudnya supaya
tidak membahayakan ummat, melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar. Ada juga yang mengartikan
legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang hanya sekedar simbol saja.
Kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkat atau pegangan hidup, itu
artinya Sunan Bonang selalu membawa agama, membawa iman sebagai penunjuk jalan
kehidupan.
Raden Said kemudian
disuruh menunggui tongkat atau agama di tepi sungai. Itu artinya Raden Said
diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa yang banyak mempunyai
aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama yaitu Hindu dan Budha.
Sunan Bonang mampu
berjalan di atas air sungai tanpa ambles ke dalam sungai.
Bahkan sedikitpun ia
tidak terkena percikan air sungai. Itu artinya Sunan Bonang dapat bergaul
dengan dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama
yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri yaitu Islam.
Raden Said sewaktu
bertapa ditepi tubuhnya tidak sampai hanyut ke aliran sungai, hanya daun, akar
dan rerumputan yang menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Itu artinya Raden
Said bergaul dengan masyarakat Jawa, adat istiadat masyarakat di pakai sebagai
alat dakwah, dan diarahkan kepada ajaran Islam yang bersih, namun usaha itu
tampaknya sedikit mengotori tubuh Raden Said dan setelah tiga tahun Sunan
Bonang membersihkannya dengan ajaran-ajaran Islam tingkat tinggi sehingga Raden
Said masuk kegolongan para Wali. Dan pengetahuan agamanya benar-benar telah
cukup untuk dipergunakan menyebarkan agama Islam.
Demikian sehingga
tafsiran dari kisah legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang.
3. KERINDUAN SEORANG IBU.
Setelah bertahun-tahun
ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati Wilatikta seperti kehilangan
gairah hidup. Terlebih setelah usaha Adipati Tuban menangkap para perampok yang
mengacau Kadipaten Tuban membuahkan hasil. Hati ibu Raden Said seketika
berguncang. Kebetulan saat ditangkap oleh para prajurit Tuban, perampok itu
mengenakan pakaian dan topeng yang dikenakan Raden Said. Rahasia yang selama
ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu tahulah
Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.
Ibu Raden Said menangis
sejadi-jadinya. Dia benar-benar telah menyesal mengusir anak yang sangat
disayanginya itu. Sang ibu tak pernah tahu bahwa anak yang didambakannya itu
bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke Tuban. Hanya saja tidak langsung ke
Istana Kadipaten Tuban, melainkan ketempat tinggal Sunan Bonang. Untuk
mengobati kerinduan sang ibu. Tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang
tinggi. Yaitu membaca Qur’an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim ke istana
Tuban.
Suara Raden Said yang
merdu itu benar-benar menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten. Bahkan
mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan istrinya. Tapi Raden Said, masih
belum menampakkan diri. Banyak tugas yang masih dikerjakannya. Di antaranya
menemukan adiknya kembali. Pada akhirnya, dia kembali bersama adiknya yaitu Dewi
Rasawulan. Tak terkirakan betapa bahagianya Adipati Tuban dan istrinya menerima
kedatangan putra-putri yang sangat dicintainya itu.
Raden Said tidak bersedia
menggantikan kedudukan Adipati Tuban. Dia lebih suka menjalani kehidupan yang
dipilihnya sendiri. Walau sedikit kecewa Adipati Tuban agak terhibur, sebab
suami Dewi Rasawulan juga bukan orang sembarangan. Empu Supa adalah seorang
Tumenggung Majapahit yang terkenal. Cucu yang lahir dari keturunan Empu.
Akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putra
Dewi Rasawulan dan Empu Supa.
Raden Said meneruskan
pengembaraannya. Berdakwah atau menyebarkan agama Islam di Jawa tengah hingga
ke Jawa Barat. Dalam usia lanjut beliau memilih Kadilangu sebagai tempat
tinggal nya yang terakhir. Hingga sekarang beliau dimakamkan di Kadilangu,
Demak.
4. JASA SUNAN KALIJAGA.
Jasa Sunan Kalijaga
sangat sukar dihitung karena banyaknya. Beliau dikenal sebagai Mubaligh, ahli
seni, budayawan, ahli filsafat, sebagai Dalang Wayang Kulit dan sebagainya.
Untul lebih detailnya para pembaca dipersilahkan membaca literatur berjudul
Sunan Kalijaga yang ditulis oleh saudara Umar Hayim, diterbitkan oleh Menara
Kudus.
Di dalam buku tersebut
diuraikan dengan lengkap jasa dan karya Sunan Kalijaga.
Di dalam buku ini kami
nukilkan sebagian kecil dari karya dan jasa Sunan Kalijaga.
A. SEBAGAI MUBALIGH.
Beliau dikenal sebagai
ulama besar, seorang Wali yang memiliki karisma tersendiri diantara Wali-Wali
lainnya. Dan paling terkenal di kalangan atas maupun dari kalangan bawah. Hal
itu disebabkan Sunan Kalijaga suka berkeliling dalam berdakwah, sehingga beliau
juga dikenal sebagai Syekh Malaya yaitu mubaligh yang menyiarkan agama Islam
sambil mengembara. Sementara Wali lainnya mendirikan pesantren atau pedepokan
untuk mengajar murid-muridnya.
Caranya berdakwah sangat
luwes, rakyat Jawa yang pada waktu itu masih banyak menganut kepercayaan lama
tidak ditentang adat istiadatnya. Beliau dekati rakyat yang masih awam itu
dengan cara halus, bahkan dalam berpakaian beliau tidak memakai jubah sehingga
rakyat tidak merasa angker dan mau menerima kedatangannya dengan senang hati.
Pakaian yang dikenakan
sehari-hari adalah pakaian adat Jawa yang di disain dan disempurnakan sendiri
secara Islami. Adat istiadat rakyat, yang dalam pandangan Kaum Putihan dianggap
bid’ah tidal langsung ditentang olehnya selaku Pemimpin Kaum Abangan.
Pendiriannya adalah rakyat dibuat senang dulu, direbut simpatinya sehingga mau
menerima agama Islam, mau mendekat pada para Wali. Sesudah itu barulah mereka
diberi pengertian Islam yang sesungguhnya dan dianjurkan membuang adat yang
bertentangan dengan agama Islam.
Kesenian rakyat baik yang
berupa gamelan, gencing dan tembang-tembang dan wayang dimanfaatkan
sebesar-besarnya sebagai alat dakwah. Dan ini ternyata membawa keberhasilan
yang gemilang, hampir seluruh rakyat Jawa pada waktu itu dapat menerima ajakan
Sunan Kalijaga untuk mengenal agama Islam.
B. SUNAN KALIJAGA SEBAGAI
AHLI BUDAYA.
Gelar tersebut tidak
berlebihan karena beliaulah yang pertama kali menciptakan seni pakaian, seni
suara, seni ukir, seni gamelan, wayang kulit, bedug di mesjid, Gerebeg Maulud,
seni Tata Kota dan lain-lain.
a. Seni Pakaian :
Beliau yang pertama kali
menciptakan baju taqwa. Baju taqwa ini pada akhirnya disempurnaka oleh Sultan
Agung dengan dester nyamping dan keris serta rangkaian lainnya. Baju ini masih
banyak di pakai oleh masyarakat Jawa, setidaknya pada upacara pengantin.
b. Seni Suara :
Sunan Kalijagalah yang
pertama kali menciptakan tembang Dandang Gula dan Dandang Gula Semarangan.
c. Seni Ukir :
Beliau pencipta seni ukir
bermotif dedaunan, bentuk gayor atau alat menggantungkan gamelan dan bentuk
ornamentik lainnya yang sekarang dianggap seni ukir Nasional.
Sebelum era Sunan
Kalijaga kebanyakan seni ukir bermotifkan manusia dan binatang.
d. Bedug atau Jidor di
Mesjid :
Beliaulah yang pertama
kali mempunyai ide menciptakan Bedug di masjid, yaitu memerintahkan muridnya
yang bernama Sunan Bajat untuk membuat Bedug di masjid Semarang guna memanggil
orang untuk pergi mengerjakan shalat jama’ah.
e. Gerebeg Maulud :
Ini adalah acara ritual
yang diprakarsai Sunan Kalijaga, asalnya adalah tabliqh atau mengajian akbar
yang diselenggarakan para wali di Masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi.
f. Gong Sekaten :
Adalah gong ciptaan Sunan
Kalijaga yang nama aslinya adalah Gong Syahadatain yaitu dua kalimah Syahadat.
Bila gong itu dipukul akan berbunyi bermakna :di sana di situ, mumpung masih hidup,
berkumpullah untuk masuk agama Islam.
g. Pencipta Wayang Kulit
:
Pada jaman sebelum Sunan
Kalijaga, wayang bentuknya adalah sebagai berikut;
Adegan demi adegan wayang
tersebut digambar pada sebuah kertas dengan gambar ujud manusia.Dan ini
diharamkan oleh Sunan Giri. Karena diharamkan oleh Sunan Giri, Suna Kalijaga
membuat kreasi baru, bentuk wayang dirubah sedemikian rupa, dan digambar atau
di ukir pada sebuah kulit kambing, satu lukisan adalah satu wayang, sedang di
jaman sebelumnya satu lukisan adalah satu adegan. Gambar yang ditampilkan oleh
Sunan Kalijaga tidak bisa disebut gambar manusia, mirip karikatur bercita rasa
tinggi. Diseluruh dunia hanya di Jawa inilah ada bentuk wayang seperti yang
kita lihat sekarang.Itulah ciptaan Sunan Kalijaga.
h. Sebagai Dalang :
Bukan hanya pencipta wayang
saja, Sunan Kalijaga juga pandai mendalang. Sesudah peresmian Masjid Demak
dengan shalat Jum’ah, beliaulah yang mendalang bagi pagelaran wayang kulit yang
diperuntukkan menghibur dan berdakwah kepada rakyat.
Lakon yang dibawakan
seringkali ciptaannya sendiri, seperti ; Jimat Kalimasada, Dewi Ruci, Petruk
Jadi Raja, Wahyu Widayat dan lain-lain.
Dalang dari kata “dalla”
artinya menunjukkan jalan yang benar.
i. Ahli Tata Kota :
Baik di Jawa maupun
Madura seni bangunan Tata Kota
yang dimiliki biasanya selalu sama.Sebab Jawa dan Madura mayoritas penduduknya
adalah Islam. Para penguasanya kebanyakan meniru cara Sunan Kalijaga dalam
membangun Tata Kota.
Tehnik bangunan Kabupaten
atau Kota Praja
biasanya terdiridari :
1. Istana atau Kabupaten
2. Alun-alun
3. Satu atau dua pohon
beringin
4. Masjid
Letaknya juga sangat teratur, bukan sembarangan.Alun-alun ;berasal dari kata “Allaun” artinya banyak macam atau warna. Diucapkan dua kali “Allaun-allaun” yang maksudnya menunjukkan tempat bersama ratanya segenap rakyat dan penguasa di pusatkota.
Waringin : dari kata
“Waraa’in artinya orang yang sangat berhati-hati. Orang-orang yang berkumpul di
alun-alun itu sangat hati-hati memelihara dirinya dan menjaga segala hukum atau
undang-undang, baik undang-undang negara atau undang-undang agama yang
dilambangkan dengan dua pohon beringin yaitu Al-Qur’an dan hadits Nabi.
Alun-alun biasanya berbentuk segi empat hal ini dimaksudkan agar dalam
menjalankan ibadah seseorang itu harus berpedoman lengkap yaitu syariat, hadiqat
dan tariqat dan ma’rifat. Jadi tidak dibenarkan hanya mempercayai yang hakikat
saja tanpa mengamalkan syariat agama Islam.
Untuk itu disediakan
Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah.
Letak istana atau kantor
kabupaten : letak istana atau pendapat kabupaten biasanya berhadapan dengan
alun-alun dan pohon beringin. Letak istana atau kabupaten itu biasanya
menghadap ke laut dan membelakangi gunung. Ini artinya para penguasa harus
menjauhi kesombongan, sedang menghadap ke laut artinya penguasa itu hendaknya
berhati pemurah dan pemaaf seperti luasnya laut. Sedang alun-alun dan pohon
beringin yang berhadapan dengan istana atau kabupaten artinya penguasa harus
selalu mengawasi jalannya undang-undang dan rakyatnya.
Sunan Kudus / Raden Jakfar Sodiq
MESKI namanya Sunan Kudus, ia bukanlah asli Kudus. Dia datang dari Jipang Panolan (ada yang mengatakan disebelah utara Blora), berjarak 25 kilometer ke arah barat kota Kudus, Jawa Tengah. Di sanalah ia dilahirkan, dan diberi nama Ja'far Shodiq. Ia adalah anak dari hasil perkawinan Sunan Undung atau Sunan Ngudung (Raden Usman Haji) dengan Syarifah, cucu Sunan Ampel. Semasa jayanya, Sultan Undung terkenal sebagai panglima perang yang tangguh.
Sampai suatu waktu, Sunan Undung tewas dalam peperangan antara Demak dan Majapahit. Setelah itu, Ja'far Shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya ialah menaklukkan wilayah Kerajaan Majapahit untuk memperluas kekuasaan Demak. Kenyataannya, Ja'far Shodiq terbukti hebat di medan perang, tak kalah dengan kepiawaian ayahnya.
Ja'far Shodiq berhasil mengembangkan wilayah Kerajaan Demak, ke timur mencapai Madura, dan ke arah barat hingga Cirebon. Sukses ini kemudian memunculkan berbagai cerita kesaktian Ja'far Shodiq. Misalnya, sebelum perang, Ja'far Shodiq diberi badong --semacam rompi-- oleh Sunan Gunung Jati. Badong itu dibawa berkeliling arena perang.
Dari badong sakti itu kemudian keluarlah jutaan tikus, yang juga ternyata sakti. Kalau dipukul, tikus itu bukannya mati, malah makin mengamuk sejadi-jadinya. Pasukan Majapahit ketakutan lari tunggang langgang. Dia juga punya sebuah peti, yang bisa mengeluarkan jutaan tawon. Banyak prajurit Majapahit yang tewas disengat tawon.
Yang pasti, pemimpin pasukan Majapahit, Adipati Terung, menyerah kepada pasukan Ja'far Shodiq. Usai perang, Ja'far Shodiq menikahi putri Adipati Terung, yang kemudian menghasilkan delapan anak. Selama hidupnya, Ja'far Shodiq sendiri juga punya istri lain, antara lain putri Sunan Bonang, yang menghasilkan satu anak.
Sukses mengalahkan Majapahit membuat posisi Ja'far Shodiq makin kokoh. Dia mendapat tugas lanjutan untuk mengalahkan Adipati Handayaningrat, yang berniat makar terhadap Kerajaan Demak. Adipati Handayaningrat merupakan gelar yang disandang Kebo Kenanga, penguasa daerah Pengging --wilayah Boyolali-- dan sekitarnya.
Kebo Kenanga berniat mendirikan negara sendiri bersama Ki Ageng Tingkir. Pasangan ini merupakan pengikut Syekh Siti Jenar, seorang guru yang mengajarkan hidup model sufi. Kebo Kenanga dan Tingkir digambarkan sebagai saudara seperjuangan, yang saling menyayangi bagaikan saudara kandung.
Tanda-tanda pembangkangan Kebo Kenanga makin kentara ketika ia menolak menghadap Raja Demak, Adipati Bintara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Patah. Surat panggilan yang dibuat Raden Patah ditelantarkan hingga tiga tahun oleh Kebo Kenanga. Maka, Raden Patah memutuskan untuk mematahkan pembangkangan Kebo Kenanga itu.
Raden Patah memerintahkan Ja'far Shodiq ''meredam'' Kebo Kenanga. Dalam sebuah pertarungan, Kebo Kenanga tewas. Namun, kehebatan Ja'far Shodiq sebagai panglima perang lama-kelamaan surut. Bahkan, menjelang kepindahannya ke Kudus, Ja'far Shodiq tidak lagi menjadi panglima perang, melainkan menjadi penghulu masjid di Demak.
Terdapat beberapa versi tentang kepergian Ja'far Shodiq dari
Demak. Ada kemungkinan, Ja'far Shodiq berselisih paham dengan Raja Demak.
Kemungkinan lain, Ja'far Shodiq berselisih paham dengan Sunan Kalijaga. Dalam
Serat Kandha disebutkan, Ja'far Shodiq memiliki murid, Pangeran Prawata.
Belakangan, Pangeran Prawata justru mengakui Sunan Kalijaga sebagai guru baru.
Bagi Ja'far Shodiq, Pangeran Prawata durhaka karena mengakui dua guru sekaligus. Ketika Pangeran Prawata menjadi Raja Demak, Ja'far Shodiq berniat membunuhnya, melalui tangan Arya Penangsang, yang tiada lain dari pada adik kandung Prawata. Agaknya, Arya Penangsang tidak tega, maka dia pun menyuruh orang lain lagi, yang bernama Rangkud.
Pangeran Prawata akhirnya tewas bersama istrinya, setelah ditikam Rangkud. Jenazah Prawata bersandar ke badan istrinya, karena keduanya tertembus pedang. Rangkud juga mati. Sebab, tanpa diduga, sebelum mengembuskan napas penghabisan, Prawata sempat melempar keris Kiai Bethok ke tubuh Rangkud.
Versi lain menyebutkan, Ja'far Shodiq meninggalkan Demak karena alasan pribadi semata. Ia ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama Islam. Belum jelas kapan persisnya Ja'far Shodiq tiba di Kudus. H.J. De Graaf dan T.H. Pigeaud dalam bukunya, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, mencoba mengumpulkan beberapa catatan tentang aktivitas Ja'far Shodiq di sana.
Kedua peneliti itu menyatakan, ketika Ja'far Shodiq menginjakkan kaki di Kudus, kota itu masih bernama Tajug. Menurut penuturan warga setempat, yang mula-mula mengembangkan kota Tajug adalah Kiai Telingsing. Ada yang menyebut, Telingsing merupakan panggilan sederhana kepada The Ling Sing, orang Cina beragama Islam.
Cerita ini menunjukkan bahwa kota itu sudah berkembang sebelum kedatangan Ja'far Shodiq. Beberapa cerita tutur mempercayai bahwa Ja'far Shodiq merupakan penghulu Demak yang menyingkir dari kerajaan. Di Tajug, Ja'far Shodiq mula-mula hidup di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Ada yang menafsirkan, jamaah Ja'far Shodiq itu merupakan para santri yang dibawanya dari Demak.
Mereka sekaligus para tentara yang ikut bersama-sama Ja'far Shodiq memerangi Majapahit. Versi lain menyebutkan, para pengikutnya itu merupakan warga setempat yang dipekerjakan Ja'far Shodiq untuk menggarap tanah ladang. Ini bisa ditafsirkan bahwa Ja'far Shodiq mula-mula hidup dari penghasilan menggarap lahan pertanian.
Setelah jamaahnya makin banyak, Ja'far Shodiq kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja'far Shodiq adalah Masjid Menara Kudus, yang kini masih berdiri. Nama Ja'far Shodiq tercatat dalam inskripsi masjid tersebut.
Menurut catatan di situ, masjid ini didirikan pada 956 Hijriah, sama dengan 1549 Masehi. Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa Arab yang artinya, ''... Telah mendirikan masjid Aqsa ini di negeri Quds...'' Sangat jelas bahwa Ja'far Shodiq menamakan masjid itu dengan sebutan Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Kota Tajug juga mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Pada akhirnya, Ja'far Shodiq sendiri lebih terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Dalam menyebarkan agamanya, Sunan Kudus mengikuti gaya Sunan Kalijaga, yakni menggunakan model ''tutwuri handayani''. Artinya, Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan frontal, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit.
Ketika itu, masyarakat Kudus masih didominasi penganut Hindu. Maka, Sunan Kudus pun berusaha memadukan kebiasaan mereka ke dalam syariat Islam secara halus. Misalnya, Sunan Kudus justru menyembelih kerbau, bukan sapi, pada saat hari raya Idul Qurban. Itu merupakan bagian dari penghormatan Sunan Kudus kepada para pengikut Hindu.
Cara yang simpatik itu membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama Islam dari Sunan Kudus. Surat Al-Baqarah, yang dalam bahasa Arab artinya sapi, sering dibacakan Sunan Kudus untuk lebih memikat pendengar. Pembangunan Masjid Kudus sendiri tidak meninggalkan unsur arsitektur Hindu. Bentuk menaranya tetap menyisakan arsitektur gaya Hindu.
Bagi Ja'far Shodiq, Pangeran Prawata durhaka karena mengakui dua guru sekaligus. Ketika Pangeran Prawata menjadi Raja Demak, Ja'far Shodiq berniat membunuhnya, melalui tangan Arya Penangsang, yang tiada lain dari pada adik kandung Prawata. Agaknya, Arya Penangsang tidak tega, maka dia pun menyuruh orang lain lagi, yang bernama Rangkud.
Pangeran Prawata akhirnya tewas bersama istrinya, setelah ditikam Rangkud. Jenazah Prawata bersandar ke badan istrinya, karena keduanya tertembus pedang. Rangkud juga mati. Sebab, tanpa diduga, sebelum mengembuskan napas penghabisan, Prawata sempat melempar keris Kiai Bethok ke tubuh Rangkud.
Versi lain menyebutkan, Ja'far Shodiq meninggalkan Demak karena alasan pribadi semata. Ia ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama Islam. Belum jelas kapan persisnya Ja'far Shodiq tiba di Kudus. H.J. De Graaf dan T.H. Pigeaud dalam bukunya, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, mencoba mengumpulkan beberapa catatan tentang aktivitas Ja'far Shodiq di sana.
Kedua peneliti itu menyatakan, ketika Ja'far Shodiq menginjakkan kaki di Kudus, kota itu masih bernama Tajug. Menurut penuturan warga setempat, yang mula-mula mengembangkan kota Tajug adalah Kiai Telingsing. Ada yang menyebut, Telingsing merupakan panggilan sederhana kepada The Ling Sing, orang Cina beragama Islam.
Cerita ini menunjukkan bahwa kota itu sudah berkembang sebelum kedatangan Ja'far Shodiq. Beberapa cerita tutur mempercayai bahwa Ja'far Shodiq merupakan penghulu Demak yang menyingkir dari kerajaan. Di Tajug, Ja'far Shodiq mula-mula hidup di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Ada yang menafsirkan, jamaah Ja'far Shodiq itu merupakan para santri yang dibawanya dari Demak.
Mereka sekaligus para tentara yang ikut bersama-sama Ja'far Shodiq memerangi Majapahit. Versi lain menyebutkan, para pengikutnya itu merupakan warga setempat yang dipekerjakan Ja'far Shodiq untuk menggarap tanah ladang. Ini bisa ditafsirkan bahwa Ja'far Shodiq mula-mula hidup dari penghasilan menggarap lahan pertanian.
Setelah jamaahnya makin banyak, Ja'far Shodiq kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja'far Shodiq adalah Masjid Menara Kudus, yang kini masih berdiri. Nama Ja'far Shodiq tercatat dalam inskripsi masjid tersebut.
Menurut catatan di situ, masjid ini didirikan pada 956 Hijriah, sama dengan 1549 Masehi. Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa Arab yang artinya, ''... Telah mendirikan masjid Aqsa ini di negeri Quds...'' Sangat jelas bahwa Ja'far Shodiq menamakan masjid itu dengan sebutan Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Kota Tajug juga mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Pada akhirnya, Ja'far Shodiq sendiri lebih terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Dalam menyebarkan agamanya, Sunan Kudus mengikuti gaya Sunan Kalijaga, yakni menggunakan model ''tutwuri handayani''. Artinya, Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan frontal, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit.
Ketika itu, masyarakat Kudus masih didominasi penganut Hindu. Maka, Sunan Kudus pun berusaha memadukan kebiasaan mereka ke dalam syariat Islam secara halus. Misalnya, Sunan Kudus justru menyembelih kerbau, bukan sapi, pada saat hari raya Idul Qurban. Itu merupakan bagian dari penghormatan Sunan Kudus kepada para pengikut Hindu.
Cara yang simpatik itu membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama Islam dari Sunan Kudus. Surat Al-Baqarah, yang dalam bahasa Arab artinya sapi, sering dibacakan Sunan Kudus untuk lebih memikat pendengar. Pembangunan Masjid Kudus sendiri tidak meninggalkan unsur arsitektur Hindu. Bentuk menaranya tetap menyisakan arsitektur gaya Hindu.
Diantara bekas peninggalan beliau
adalah Masjid Raya di-Kudus, yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Menara
Kudus. Oleh karena di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang
indah. Mengenai asal-usulnya nama Kudus menurut dongeng (legenda) yang hidup
dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi
naik haji sambil menuntut ilmu di tanah Arab, kemudian beliau juga mengajar di sana. Pada suatu masa, di
tanah arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan, penyakit
itu menjadi reda berkat jasa Sunan Kudus. Oleh karena itu, seorang amir disana
berkenan untuk memberikan suatu hadiah kepada beliau. Akan tetapi beliau
menolak, hanya kenang-kenangan sebuah batu yang beliau minta. Batu tersebut
katanya berasal dari kota Baitul Makdis, atau Jeruzalem, maka sebagai
peringatan kepada kota dimana Ja'far Sodiq hidup serta bertempat tinggal,
kemudian diberikan nama Kudus.
Bahkan menara yang terdapat di depan
masjid itupun juga menjadi terkenal dengan sebutan Menara Kudus. Mengenai nama
Kudus atau Al Kudus ini di dalam buku Encyclopedia Islam antara lain disebutkan
: "Al kuds the usual arabic nama for Jeruzalem in later times, the olders
writers call it commonly bait al makdis ( according to some : mukaddas ), with
really meant the temple (of solomon), a translation of the hebrew bethamikdath,
but it because applied to the whole town."
Kebiasaan unik lain Sunan Kudus dalam berdakwah adalah acara
bedug dandang, berupa kegiatan menunggu datangnya bulan Ramadhan. Untuk mengundang
para jamaah ke masjid, Sunan Kudus menabuh beduk bertalu-talu. Setelah jamaah
berkumpul di masjid, Sunan Kudus mengumumkan kapan persisnya hari pertama
puasa.
Sekarang ini, acara dandangan masih berlangsung, tapi sudah jauh dari aslinya. Menjelang Ramadhan, banyak orang datang ke areal masjid. Tetapi, mereka bukan hendak mendengarkan pengumuman awal puasa, hanya untuk membeli berbagai juadah yang dijajakan para pedagang musiman.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Jami Kudus.
Jika orang memandang Menara Masjid Kudus yang lain sangat aneh dan artistik
tersebut pasti akan segera teringat pada pendirinya yaitu Sunan Kudus.
Nama Sunan Kudus di kalangan masyarakat
setempat, dimitoskan sebagai seorang tokoh yang terkenal dengan seribu satu
tentang kesaktianya, Sunan Kudus dikatanya sebagai wali yang sakti, yang dapat
diperbuat sesuatu di luar kesanggupan otak dan tenaga manusia biasa.
Dalam dongeng yang masih hidup di
kalangan masyarakat, antara lain dikatakan, bahwa pada zaman dahulu pernah
Sunan Kudus pergi haji serta bermukim disana. Kemudian beliau menderita
penyakit kudis ( bhs. Jawa : gudigen ), sehingga oleh kawan - kawan beliau,
Sunan Kudus dihina. Entah kenapa timbullah malapetaka yang menimpa negeri Arab
dengan berjangkitnya wabah penyakit. Segala daya upaya telah dilakukan untuk
mengatasi bahaya tersebut, namun kiranya usaha itu sia - sia belaka. Akhirnya
di mintalah bantuan beliau untuk memberikan jasa - jasa baiknya. Bahaya itupun
karena kesaktian beliau menjadi reda kembali. Atas jasa beliau, Amir dari
negeri Arab itupun berkenan memberi hadiah kepada beliau sebagai pembalasan
jasa. Akan tetapi Sunan Kudus menolak pemberian hadiah berupa apapun juga. Dan
beliau hanya meminta sebuah batu sebagai kenang - kenangan yang akan dipakai
sebagai peringatan bagi pendirian masjid di Kudus.
Jauh sebelum masjid kuno itu didirikan
beliau konon kabarnya masjid yang terletak di desa Nganguk di Kudus itu adalah
masjid Sunan Kudus yang pertama kali. Dalam dongeng di ceritakan, bahwa jauh
sebelum Sunan Kudus memegang tampuk pimpinan di Kudus, telah ada seorang tokoh
terkemuka disana ialah Kyai Telingsing. karena beliau sudah lanjut usia maka ia
ingin mencari penggantinya. Pada suatu hari Kyai Telingsing berdiri sambil
menengok ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicarinya (bhs. Jawa : ingak -
inguk), tiba - tiba Sunan Kudus pun muncul dari arah selatan, dan masjidpun
segera dibinanya di dalam waktu yang amat singkat, malahan ada yang mengatakan
bahwa masjid itu tiba - tiba muncul denga sendirinya (bhs. Jawa : Majid tiban),
berhubungan dengan itu desa tersebut kemudian di beri nama : Nganguk, sedangkan
masjidnya dinamakan Masjid Nganguk Wali.
Lebih jauh dalam dongeng itupun
disebutkan, bahwa baik Menara Kudus maupun lawang kembar, masing - masing di
bawa oleh beliau dengan di bungkus sapu tangandari tanah Arab, sedangkan lawang
kembar, katanya di pindahkan beliau dari Majapahit.
·
Legenda
daerah Jember
Sekali peristiwa, datang seorang tamu
bernama Ki Ageng Kedu yang hendak menghadap Sunan Kudus. tamu tersebut
mengendarai sebuah tampah. sesampainya di Kudus Ki Ageng Kedu tidak lah
langsung menghadap Sunan Kudus, melainkan memamerkan kesaktianya dengan
mengendarai tampah serta berputar - putar diangkasa. Seketika dilihatnya oleh
Sunan Kudus, maka beliau murka sambil mengatakan, bahwa tamu Ki Ageng Kedu ini
menyombongkan kesaktianya. Sesudah di sabda oleh beliau, berkat kesaktian Sunan
Kudus, tampah yang ditumpangi Ki Ageng Kedu itupun meluncur ke bawah hingga
jatuh ke tanah yang becek (bhs. Jawa : ngecember), sehingga tempat tersebut
kemudian dinamakan Jember
Selain itu di dalam dongeng di sebutkan
bahwa pada suatu hari Sunan Kudus memakan ikan lele, kemudian setelah tinggal
tulang dan kepalanya, dibuanglah oleh Sunan Kudus ke dalam sebuah sumur, maka
ikan yang tinggal tulang dan kepala itupun hidup kembali.
Di dalam "Babad Tanah Jawi"
serta kepustakaan Jawa lainya dikatakan, bahwa nama kecil Sunan Kudus ialah
Raden Undung, beliau pernah memimpin tentara Demak melawan Majapahit.
Selanjutnya juga di sebutkan bahwa Sunan Kudus lah yang membunuh Syekh Siti
Jenar dan Kebo Kenanga, karena keduanya mengajarkan ilmu yang di pandang sangat
membahayakan masyarakat yang baru saja memeluk agama Islam.
Sunan Muria / Raden Umar Said
Beliau adalah putra Sunan Kalijaga
dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam
berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai
mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di
sekitar Gunung Muria. Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu
puncaknya bernama Colo. Letaknya di sebelah
utara kota
Kudus. Menurut Solichim Salam, sasaran dakwah beliau adalah para pedagang,
nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap
mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk
menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
2.
SAKTI MANDRAGUNA.
Bahwa
Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuatfisiknya dapat dibuktikan dengan
letak padepokannya yang terletak diatas gunung . Menurut pengalaman penulis
jarak antara kaki undag-undagan atau tangga dari bawah bukit sampai kemakam
Sunan Muria (tidak kurang dari750 M).
Bayangkanlah,
jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap hari harus
naik-turun, turun-naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat
,atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu
tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda
tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria.Harus
jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian tinggi, demikian pula
murid-muridnya.
Bukti
bahwa Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah
Perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Sunan
Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian
ilmunya, tempat tinggalnya di Juana. Demikian saktinya Sunan Ngerang ini
sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai-sampai berguru kepada beliau.
Pada
suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang genap
dua puluh tahun. Murid-murid diundang semua.Seperti : Sunan Muria, Sunan Kudus
,Adipati Pathak Warak, Kapa dan adiknya Gentiri .Tetangga dekat juga diundang,
demikian pula sanak kadang yang dari jauh.
Setelah
tamu berkumpul DewiRoroyono dan adiknya yaitu Dewi Roro Pujiwati keluar
menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik
rupawan.
Terutama
Dewi Roroyono yang berusia dua puluh tahun, bagaikan bunga yang sedang mekar
mekarnya.
Bagi
Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat menahan
pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi seorang murid
Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi Roroyono
dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu. Sewaktu menjadi
cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak belum menjadi
Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang
mempersona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak
tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus
menerus.
Karena
dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi. Dia menggoda
Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih setelah lelaki itu
bertindak kurang ajar. Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih
ketika lelaki itu berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya
yang tak pantas disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang
dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang Adipati.
Pathak
Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi
dilihatnya para tamu menertawakan kekonyolannya itu, diapun semakin malu.
Hampir
saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah putri
gurunya. Roroyono masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya
karena dipermalukan oleh Pathak Warak. Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah
pulang ke tempatnya masingmasing.
Tamu
dari jauh terpaksa menginap dirumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan
Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat
memejamkan matanya. Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya mengendap-endap
ke kamar Roroyono. Gadis itu disiramnya sehingga tak sadarkan diri, kemudian
melalui genteng Pathak Warak melorot turun dan membawa lari gadis itu melalui
jendela. Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri. Setelah Sunan
Ngerang mengetahui bahwa putrinya di culik oleh Pathak Warak, maka beliau
berikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya itu bila perempuan akan
dijadikan saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena
semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan
Muria yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.
“Saya
akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak,” Kata Sunan
Muria.
Tetapi,
ditengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik
seperguruan yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua
orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah
Keling.
“Mengapa
Kakang tampak tergesa-gesa ?” tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan
penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak. Kapa dan Gentiri
sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua.
Keduanya
lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi
Roroyono.
“Kakang
sebaiknya pulang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid Kakang sangat
membutuhkan bimbingan. Biarlah kami yang berusaha merebut di Ajeng Roroyono
kembali. Kalau berhasil Kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar
membantu.” Demikian kata Kapa.
“Aku
masih sanggup merebutnya sendiri,” Ujar Sunan Muria.
“Itu
benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting,
percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali.” kata Kapa ngotot.
Sunan
Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak
enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok
para santrinya di Padepokan Gunung Muria. Untuk merebut Dewi Roroyono dari
tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata meminta bantuan seorang Wiku
Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang
tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.
Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang.
Ingin
mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Ditengah jalan beliau bertemu
dengan Adipati Pathak Warak.
“Hai
Pathak Warak berhenti kau !”Bentak Sunan Muria.
Pathak
Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena Sunan Muria menghadang di
depannya.
“Minggir
! Jangan menghalangi jalanku !” Hardik Pathak Warak.
“Boleh,
asal kau kembalikan Dewi Roroyono !”
“Goblok!
Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri !Kini aku hendak mengejar mereka!” Umpat
Pathak Warak.
“Untuk
apa kau mengejar mereka?”
“Merebutnya
kembali!” jawab Pathak Warak dengan sengit .
“Kalau
begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku !”Ujar Sunan
Muria sambil pasang kuda -kuda.
Tampabasa-basi
Pathak Warak melompat dari punggung kuda .Dia merangsak ke Arah Sunan Muria
dengan jurus –jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putra Sunan
Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan
,Pathak Warak telah jatuh atau roboh ditanah dalam keadaan fatal. Seluruh
kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh tak mampu untuk bangkit berdiri
apalagi berjalan. Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana,
kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri
telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil
alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya
menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.
Upacara
pernikahanpun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu
diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi
orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan.
Sedang
Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup
bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.
Tidak
demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari
Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita
jelita itu.
Siang
malam mereka tak dapat tidur.Wajah wanita itu senantiasa terbayang.Namun karena
wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat
apa-apalagi.
Hanya
penyesalan yang menghujam didada. Mengapa dulu mereka buru –buru menawarkan
jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang
nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran
agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan
mereka. (kemaluan).
Andaikata
Kapa dan Gentiri tidak menatap terus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang
indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh Iblis yang
memasang perangkap pada pandangan mata.
Kini
Kapa dan Gentiiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad hendak
merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk
menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh keji
rencana mereka. Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia
hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, terjadilah
pertempuran dasyart .Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri,
suasana menjadi semakin panas, akhirnya Gentiri tewas menemui ajalnya dipuncak
Gunung Muria.
Kematian
Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa.
Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam di malam hari.
Tak
seorangpun yang mengetahuinya. Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa
murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap murid-murid
Sunan Muria yang berilmu rendah ………. yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono.
Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke
Pulau Seprapat.
Pada
saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud
mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang. Datuk diPulau Seprapat .Ini biasa
dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih
sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.
Seperti
ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain
dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan agung.
Bukannya
berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan ajaran-ajaran
akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang pada akirnya
tertarik dan masuk Islam secara suka rela.
Ternyata,
kedatangan Kapa ke pulau Seprapat itu tidak di sambut baik oleh Wiku Lodhang
Datuk.
“Memalukan
! benar-benar nista perbuatanmu itu ! Cepat kembalikan istri kakanda
seperguruanmu sendiri itu !” hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.
“Bapa
guru ini bagaimana, bukankah aku ini muridmu ? Mengapa tidak kau bela ?” protes
Kapa.
“Apa ? Membela perbuatan durjana ?” Bentak Wiku Lodhang Datuk.
“Apa ? Membela perbuatan durjana ?” Bentak Wiku Lodhang Datuk.
“Sampai
matipun aku takkan sudi membela kebejatan budi perkerti walau pelakunya Itu
murid kusendiri!”
Perdebatan
antara guru dan murid itu berlangsung lama.Tanpa mereka sadari Sunan Muria
sudah sampai ditempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat istrinya
sedang tergolek ditanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara
Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk
menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan
Kapa. Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh
Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.
Ternyata,
serangan dengan mengerahkan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik
menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu
membalikkan serangan lawan. Karena Kapa mempergunakan aji pemungkas yaitu
puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu akhirnya merengut nyawa nya
sendiri.
“Maafkan
saya Tuan Wiku ….. “ ujar Sunan Muria agak menyesal.
“Tidak
mengapa, sudah sepantasnya dia menerima hukuman ini. Menyesal aku telah
memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan,”
Guman sang Wiku.
Dengan
langkah gontai sang Wiku mengangkat jenazah muridnya. Bagaimanapun Kapa adalah
muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya Dewi
Roroyono dan Sunan Muria kembali ke padepokan dan hidup berbahagia.
Wali Songo
Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur,
menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak.
Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah
nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul
Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.
Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran
185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa
Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para
sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap
fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang
pemerintahan dan agama.”
Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam
berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah
tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo,
tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes
menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang
sebagai wali di antara para wali.
”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya,
New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana,
yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein
Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya
diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo,
masih menurut Hoessein, jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah Wali
Songo berasal dari kata ”wali” dan ‘’songo”. Kata wali berasal dari bahasa
Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo
berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.
Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang
terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali
Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham
Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan
dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.
Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di
timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan.
Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di
barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali
diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang
menyemaikan benih Islam di Jawadwipa.
Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan
”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun,
hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali
nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan
alasannya sendiri.
Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali
Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad
alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan
Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias
Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga,
dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.
Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi.
Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid
III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo.
Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan
Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.
Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana
Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar
sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena
dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya
hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan
syariat Islam.
Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga,
atau dewan dakwah. Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi
koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali
Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.
Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn
Bathuthah. Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling
tidak mengalami lima
kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana
Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil,
Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir.
Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus,
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan
Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang
wafat. Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke
Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.
Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk
jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan
Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam
periode terakhir. Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja
Demak Bintoro yang pertama.
Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan.
Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445. Dalam versi ini
disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus,
Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan
Kudus hidup pada 1540-an.
Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel.
Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria.
Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula,
tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan
Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa.
Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional,
baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno
berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para wali. Sebagian besar
babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersamaan.
Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan
pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan
keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di
Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.
Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali
berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan
Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali
katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana
Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan
Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.
Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi
10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda
dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal
dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai
gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat.
Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan.
Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan
Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah
Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai
Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak surut.
Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di
Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di
kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah
di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia
dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.
Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan
nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf
dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan
ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang
menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.
”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis
De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan
bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,”
kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden,
Negeri Belanda, itu menambahkan.
Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang
wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai
guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci
dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ.
Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai
bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.
Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama
kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ”Kemudian, pada
1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam
Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari
Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas
di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.
Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran
dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti
oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum
Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,”
tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.
Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan
Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap
nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga
terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.
Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir
kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira
itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada
Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga
menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.
Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia
memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan.
Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah
menjadi padang
ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar
padang ilalang,
tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.
Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira
ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya
dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom,
sekitar 10 kilometer dari kota
Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki
Ageng Gribik.
Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di
rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki
Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom
kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang
kelaparan. Semuanya kebagian.
Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue
apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang
dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik
itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.
Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang
terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40
ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem
disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu…. Ribuan orang yang
menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu.
Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos
tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf,
sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya,
ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan
tempat yang sangat dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17,
keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.
SELAMA 40 hari, Raden
Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin
mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana
Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di
Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.
Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah
dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat
mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian
mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan
Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.
Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren
Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas
istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar
satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar
berukuran 6 x 5 meter.
Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan
Giri mengajarkan agama Islam. Ada
juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak
lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata
Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.
Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan
sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah
Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa.
Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri
meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.
Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya
merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum
”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan
Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga,
dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.
Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan
Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali
ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga
cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri,
menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.
Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan
bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah
wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para
wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan
Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.
Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang
kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan
Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia
pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton.
Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.
Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam,
seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri.
Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa,
seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon,
seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.
Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through
Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku.
Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat
Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan
Giri tercatat.
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja
Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi
raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah
itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya
Kertabhumi.
Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap
sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah
menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal
sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga
tidak jelas batas wilayahnya.
Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh
Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh.
Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu.
Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur,
karena ingin menyebarkan agama Islam.
Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia
disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan
sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu,
ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.
Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil
mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan
dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup
memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih
Bajul Sengara mencari pertapa sakti.
Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa
sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang
Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau
Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi
Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.
Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa
Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak
sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak
berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar
Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.
Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan
Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada
Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama
Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan
kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah
peti.
Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari
Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai
Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian
dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun,
Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.
Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul
Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden
Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi,
mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.
Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah
kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke
Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam
tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau
tanahnya sama dengan yang diberikannya.
Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak
dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga
diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63
tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa
Timur.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar